Tayangan Televisi yang ada sebenarnya tidak sekedar hiburan atau tontonan akan tetapi harus juga sebagai tuntunan atau contoh, jika kita amati semakin hari tayangan televisi tidak semakin baik kualitasnya akan tetapi semakin merosot kualitas tayangannya. Banyak tayangan-tayangan yang tidak pantas untuk dilihat dan dinikmati para pecinta pertelevisian Indonesia, apakah memang hal ini sebuah kemunduran dari moralitas dan degradasi bangsa ini. Sebuah tanyangan akan memiliki dan mempunyai daya pengaruh yang luar biasa bagi para penontonnya. Yang menjadi obyek dalam hal ini adalah dua tanyangan komedi series yang disajikan oleh dua stasiun televisi.
Segerrr Benerr yang ditayangkan ANTV dan Opera Van Java yang ditayangkan Trans7, sebenarnya awal-nya dua acara ini cukup menghibur dengan banyolan dan komedian yang memiliki karakter kuat pada setiap episode-nya, akan tetapi pada bulan puasa kemaren hal ini muncul dengan bentuk kekerasan fisik yang diterima oleh salah satu pemain untuk memancing gelak tawa penonton. Jika di Opera Van Jawa Aziz Gagap sebagai obyek-nya walau akhirnya berkembang ke beberapa pemain lainnya, dan untuk Segerrr Benerrr Ohang yang menjadi korban dari aksi kekerasan itu. Walaupun alat yang digunakan sebagai media terbuat dari bahan tidak berbahaya (foam) gabus, akan tetapi tindakan dan perilaku inilah yang kemungkinan akan ditiru oleh penonton apalagi yang dibawah umur yang belum bisa memahami dengan baik apa yang dilihat dalam tayanang tersebut.
Yang lebih ironis lagi jam tayang kedua acara tersebut masih sore dimana anak-anak masih dimungkinkan untuk menonton-nya, dan penayangannya-pun hampir tiap hari. Apakah Lembaga-lembaga terkait tidak melihat atau bahkan menutup mata dengan tayangan-tayangan yang seperti ini, jangan sepelekan hal ini, karena tingkat emosional orang itu berbeda-beda, dan kecenderungan tayangan televisi begitu besar dalam mempengaruhi cara pandang dan pola pikir penontonnya harus juga diperhatikan, semoga lembaga-lembaga yang berkompeten mampu mengambil sikap dan langkah bijaksana untuk menyelematkan anak bangsa.
Ketika saya kecil hanya ada satu stasiun televisi yang bisa aku tonton, yaitu Televisi Republik Indonesia (TVRI), meskipun dengan televisi hitam putih namun aku begitu menikmati setiap acara dan tayangan yang disajikan. Masih teringat dalam benakku ketika hari menjelang petang, berebut untuk segera pulang dari bermain bola ditanah lapang, dengan harapan bisa lekas mandi dan melotitin acara FILM kartun, ada Donald Bebek, Mikey Mouse, Flash Gordon, Deni Manusia Ikan. Begitu beranjak malam berisi tentang perbincangan para pakar dan terkadang diselingi dengan tayangan documenter tentang pengetahuan berbagai hal. Belum lagi ada acara Cerdas Cermat, Cerdas Tangkas, Klompencapir, Kuis Tak Tik Bom, Berpacu Dalam Melodi dan masih banyak lagi tayangan yang mendidik dan memberikan teladan yang baik bagi perkembangan pola pikir anak-anak.
Dari TVRI ini pula pemirsa di manjakan dengan tayangan olah raga berupa Arena dan Juara, Dari Gelanggang ke Gelanggang, belum lagi jika ada siaran langsung Tinju Ellyas Pical, Kejuaraan Bulu Tangkis atau Team Sepakbola Indonesia bertanding. Serasa begitu menghibur dengan kemasan yang manis, Belum lagi suguhan sinetron yang mampu membangkitkan emosi penonton dengan disajikan secara santun dan tetap memperhatikan nilai budaya, mengangkat dan menumbuhkan nasionalisme memberikan tauladan dan pendidikan yang baik.
Ambil contoh seperti Sinetron Jendela Rumah Kita, Serumpun Bambu, Rumah Masa Depan, Sengsara Membawa Nikmat, Siti Nurbaya dan masih banyak yang lainnya lagi. Dari sinetron-sinetron tadi terkandung misi yang jelas ada pembelajaran yang sangat berharga dalam menumbuhkan dan mendoktrin pola pikir apalagi anak-anak. Dari sisi budayapun tidak ketinggalan, untuk tayangan seperti Wayang Kulit, Ketoprak, Wayang Golek, Ludruk, Ria Jenaka ataupun dari budaya lain dari seluruh daerah di Nusantara ini.
Dari para pemain-pun terkesan lebih santun dan bisa memberikan tauladan yang baik dari cara berpakaian maupun tata bahasa dan berbicara.Jika kita bandingkan dengan tayangan televisi saat ini, sudah barang tentu sangat miris kita rasakan bagaimana para artis sekarang kurang bisa memberikan contoh yang baik, padahal mereka adalah public figure yang setiap tindakannya akan dicontoh oleh masyarakat apalagi oleh anak-anak dan remaja negeri ini. Dan sebuah tayangan televisi ternyata bisa jadi satu indikator rusaknya moralitas bangsa. Hal ini bisa terjadi karena tontonan yang disajikan terlalu menjual mimpi, menawarkan kemewahan dan kekayaan dalam sesaat, dimana tema-tema pada sinetron kita hampir semua sama dari satu stasiun televisi satu ke stasiun yang lain. Lebih ironis lagi penikmat tayangan tadi adalah mayoritas dari masyarakat kita yang berada pada ekonomi menengah ke bawah, sehingga tanpa mereka sadari tayangan televisi menggiring pola pikir mereka dalam berperikehidupan sehari-hari untuk bisa mencontoh sosok pujaannya, mulai dari gaya bicara, penampilan malah terkadang gaya hidup.
Jika sudah demikian akan semakin sulit untuk bisa mengembalikan mereka pada realitas kehidupan nyata.Memang ada tayangan rohani pada acara televisi akan tetapi terkadang tayangan seperti ini terjebak pada konsep dan konteks serta gaya yang kurang bisa memberikan telaah dengan bijaksana pada sikap dan perilaku masyarakat kita. Penyaji acara terjebak pada konsep produser dan sutradara, sehingga pesan yang disampaikan tidak menyentuh.
Semoga insan pertelevisian bisa lebih mengerti dan memahami serta memiliki moralitas dalam menentukan program acaranya demi masa depan anak bangsa, amiin..
kau datang dengan se-ulas senyum manis disudut bibirmu kau hadir tawarkan hangat dalam peluk dan rengkuhmu kau ada dengan beribu harapan dan berjuta impian akan sebuah masa depan kau berceloteh tentang indah-nya hidup
aku terhanyut... aku terbuai... aku mabuk...
ku terkapar disudut altar ranjang pemujaan ketika kau tawarkan secawan kenikmatan ku terkulai lunglai dalam batas mampuku ketika kau pasrah dan berserah ikuti iramaku
mata ini sayu lidah ini kelu hati ini beku jiwa ini membiru
ku tersentak dan tersadar betapa kau mencintaiku betapa kau mengasihiku betapa kau menyayangiku
terima kasih cinta, kau bawakan letupaan bara kehidupan kau percikkan api semangat perubahan kau percaya sepenuhnya padaku karena aku lelakimu
Pada bulan Maret 2009 yang lalu, ketika acara lomba mewarnai tingkat TK dan PAUD di Depag Kabupaten Blitar, dimana yang mengadakan adalah TK Perwanida, mendengar ada acara lomba mewarnai si Sulung (Rafi) yang dalam beberapa bulan terakhir lagi senang-senangnya mewarnai berkeinginan mengikuti lomba tersebut, akhirnya jadi juga mengikuti lomba didaftarkan sama tantenya.
Dan pagi itu hari Minggu, 22 Maret 2009 dengan perasaan gembira si Sulung sudah siap untuk berangkat mengikuti lomba mewarnai, sesampai-nya di lokasi begitu terlihat betapa eria dan sumringah-nya anakku, dia dapatkan dunia-nya karena banyak anak-anak seusia dia berlari kesana kemari, tidak mempedulikan keramaian dilokasi lomba, ia begitu asyik dengan dunia-nya sendiri. Setelah melewati berbagai macam acara seremonial, akhirnya tepat jam 09.30 dibagikan lembaran kerta bergambar hitam putih untuk diwarnai.
Tidak terasa 5 menit, 10 menit dan akhirnya 20 menit berlalu, hasil Rafi mewarnai selesai (menurut versi dia, sih), yang ternyata tidak begitu mengecewakan hasilnya melihat usia dan tingkat pemahaman si kecil akan paduan warna. Setelah menunggu beberapa lama dengan disuguhi berbagai macam hiburan dari anak-anak TK Perwanida, dan pembagian berbagai doorprize, sampailah pada ending acara dengan pengumuman pemenang.
Sampai pada juara terakhir, tidak ada tersebut nama anakku, dan kulihat ada rona kecewa diwajah-nya, sambil berjalan ke tempat parkir meluncurlah pertanyaan dari-nya, ... "Yah, apa jelek ya.. hasil mewarnai-ku tadi, " ujarnya. Dengan senyum aku jawab, "Nggak tuch.. bagus kok, mas Rafi pinter." "Kog aku tidak dapat juara," lanjut dia. "Hmm, karena ada yang lebih bagus dari hasil mewarnai mas Rafi," Ujarku coba aku menjelaskan.. "Nah, nanti belajar terus untuk mewarnai-nya biar besok kalau ada lomba lagi bisa lebih bagus dan akhirnya menang, bisa Juara..ok..", sambil aku acungkan dua ibu jariku. ""Ok..", sambil mengikuti acungkan ibu jari.
Sepanjang perjalanan pulang sudah terlihat riang kembali rona wajah anakku, mungkin karena kecapaian akhirnya pulas tertidur. Sore menikmati secangkir teh hangat ditemani kepulan asap rokok, sambil menunggu magrib tiba, tiba-tiba angan ku menyeruak me-replay memori pembicaraan dengan si kecil tadi, ketika spontanitas bertanya mengapa ia tidak juara, mengapa ia tidak menang.
Sebenarnya satu hal yang sepele akan tetapi bagi saya ada satu hal yang luar biasa begitu bisa menjawab tanya si kecil, karena terkadang jawaban akan sebuah pertanyaan pada si kecil itu akan ia kenang, bisa jadi hal itu akan tertanam dalam angan-angan si kecil, maka sebisa mungkin berilah jawaban akan tanya anak-anak yang rasional dan logis, sehingga si anak akan belajar untuk berfikir secara logis terhadap setiap permasalahan yang dihadapi.